Senin, 27 Januari 2014

PRECAUTION : STERILISASI DAN SELF PROTECTION

BAB II
PEMBAHASAN
            Universal Precaution ( Kewaspadaan Universal ) adalah tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairantubuh dapat berpotensi menularkan penyakit baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan.
Dasar kewaspadaan universal meliputi :
1. Pengelolaan alat kesehatan (dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi)
2. Cuci tangan untuk mencegah infeksi silang
3. Penggunaan alat pelindung diri ( sarung tangan, masker, gown )
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam
5. Pengelolaan Limbah

2.1  STERILISASI
2.1.1        Pengertian Sterilisasi
Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan suatu proses dengan metode tertentu dapat memberikan hasil akhir, yaitu suatu bentuk keadaan yang tidak dapat ditunjukkan lagi adanya mikroorganisme hidup. Metode sterilisasi cukup banyak, namun alternatif yang dipilih sangat bergantung pada keadaan serta kebutuhan setempat. Apapun pilihan metodenya, harus tetap menjaga kualitas hasil sterilisasi. Kualitas hasil sterilisasi peralatan medis perlu dijaga terus, mengingat resiko kontaminasi kembali saat penyimpanan dan terutama pada saat akan digunakan dalam tindakan medis. (Darmadi, 2008:79)
Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan seluruh mikroorganisme, termasuk spora. Penguapan dengan tekanan, gas etilen oksida (ETO), dan kimia merupakan agens sterilisasi yang paling umum. (Potter & Perry, 1999:949)

2.1.2        Langkah-langkah sebelum melakukan proses sterilisasi
1)      Dekontaminasi : salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan jumlah mikroorganisme pada benda mati (alat) sehingga aman untuk digunakan.
2)      Pencucian : suatu cara yang digunakan untuk menghilangkan / membersihkan kontaminan (debu, tanah, tinja, darah, pus atau nanah dan sejumlah besar mikroorganisme) yang terdapat pada alat atau bahan yang dicuci. Melakukan pencucian sebelum proses disinfeksi dan sterilisasi adalah sangat diperlukan dan harus dilakukan.
3)      Disinfeksi : suatu cara yang digunakan untuk membunuh / menghilangkan / menghancurkan mikroba tapi dalam proses ini tidak semua ini tidak semua mikroba dapat dihilangkan.
2.1.3        Metode sterilisasi
2.1.3.1  Fisika
1)      Pemanasan kering
Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikrobanya mati.
Pemanasan kering ini kurang efektif apabila temperatur kurang tinggi. Untuk mencapai efektivitas diperlukan pemanasan mencapai 160­­­­­oC s/d 180­­­­­­­oC. Pada temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan jaringan, hal ini disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri phatogen dapat terbakar. Pada sistem pemanasan kering terdapat udara, hal mana telah diketahui bahwa udara memerlukan waktu lama, rata-rata waktu yang diperlukan 45 menit.
a.       Udara panas oven : digunakan untuk sterilisasi alat gelas yang tidak berskala, alat bedah, minyak lemak, parafin, petrolatum, serbuk stabil seperti talk, kaolin, ZnO. Suhu sterilisasi yang digunakan adalah 170­­­­­­­oC selama 1 jam, 160­­­­­­­oC selama 2 jam, 150­­­­­­­oC selam 3 jam.
b.      Pemijaran langsung : digunakan untuk sterilisasi alat logam, bahan yang terbuat dari porselen, tidak cocok untuk alat yang berlekuk karena pemanasannya tidak rata. Suhu yang digunakan 500-600oC dalam waktu beberapa detik, untuk alat logam sampai berpijar.
c.       Minyak dan penangas lain : Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti gunting bedah sebagai lubrikan menjaga ketajaman alat, bahan kimia stabil dalam ampul. Bahan atau alat dicelupkan dalam penangas dicelupkan dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 160­­­­­­­oC. Larutan natrium atau amonium klorida jenuh dapat digunakan pula sebagai pengganti minyak mineral.
2)      Pemanasan basah
Prinsipnya adalah dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba.
a.       Uap bertekanan (autoklaf) : digunakan untuk sterilisasi alat gelas, larutan yang dimaksudkan untuk diinjeksikan ke dalam tubuh, alat berskala, bahan karet. Waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi larutan suhu 121oC adalah 12 menit. Uap jenuh pada suhu 121oC mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme dalam 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora bakteri yang tahan pemanasan.
Benda yang akan disuci hamakan diletakan diatas lempengan saringan dan tidak langsung mengenai air dibawahnya. Pemanasan dilakukan hingga air mendidih (diperkirakan pada suhu 100­­­­­­­oC), pada tekanan 15Ib temperatur yang mencapai 121oC. Organisme yang tidak berspora hanya dapat mati dengan pemanasan     100­­­­oC selama 30 menit tetapi ada beberapa dapat bertahanselama 10 jam pada temperatur 100­­­­­­­oC dapat dimatikan hanya dalam waktu 30 menit apabila air yang mendidih ini ditambah dengan natrium carbonat
b.      Pemanasan dengan bakterisida : digunakan untuk sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil dalam autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal. Larutan yang ditambahkan bakterisida dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 oC selama 10 menit di dalam pensteril uap atau penangas air. Bakterisida yang digunakan 0,5% fenol; 0,5% klorobutanol; 0,002 % fenil merkuri nitrat; 0,2% klorokresol.
c.       Air mendidih : digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti jarum spoit. Hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk vegetatif mikroorganisme tetapi tidak sporanya.


3)      Cara bukan panas
a.       Sterilisasi dengan radiasi
Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi bahan atau produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada dua macam radiasi yang digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x, sinar γ) dan arus partikel kecil (sinar α dan β).
Dalam mikrobiologi radiasi gelombang elektromagnetik yang banyak digunakan adalah radiasi sinar ultra violet, radiasi sinar gamma atau sinar dan sinar matahari. Sinarmataharib anyak mengandung ultraviolet, sehingga secara langsung dapat dipakai untuk proses sterilisasi, hal ini telah lama diketahui banyak orang. Sinar ultraviolet bisa diperoleh dengan menggunakankatoda panas(emisi termis) yaitu ke dalam tabung katoda b ertekanan rendah diisi dengan uap air raksa, panjang gelombang yang dihasilkan dalam proses ini biasanya dalam orde 2.500 s/d 2600 angstrom. Lampu merkuri yang banyak terpasang dijalan-jalan sesungguhnya banyk yang mengandung sina ultraviolet yang dihasilkan itu diserap banyak oleh tabung gelas yang dilaluinya, sehingga dalam proses sterilisasi hendaknya memperhatikan dosis ultraviolet.

2.1.3.2  Kimia
1)      Menggunakan bahan kimia
Dalam pensterilan digunakan bahan kimia seperti alkohol 96%, fenol 5%, selain itu juga Aceton tab formalin, sulfur dioxida dan chlorin. Materi yang akan disuci hamakan dibersihkan terlebih dahulu kemudian direndam dalam alkhohol aceton atau tab formalin selama kurang lebih 24 jam.
2)      Sterilisasi gas
Dalam pensterilan digunakan bahan kimia dalam bentuk gas atau uap, seperti etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, beta propiolakton, metilbromida, kloropikrin. Digunakan untuk sterilisasi bahan yang termolabil seperti bahan biologi, makanan, plastik, antibiotik. Aksi antimikrobialnya adalah gas etilen oksida mengadisi gugus –SH, -OH, -COOH,-NH2 dari protein dan membentuk ikatan alkilasi sehingga protein mengalami kerusakan dan mikroba mati.

2.1.3.3  Mekanik
1)      Filtrasi
Digunakan untuk sterilisasi larutan yang termolabil. Penyaringan ini menggunakan filter bakteri. Metode ini tidak dapat membunuh mikroba, mikroba hanya akan tertahan oleh pori-pori filter dan terpisah dari filtratnya. Dibutuhkan penguasaan teknik aseptik yang baik dalam melakukan metode ini. Filter biasanya terbuat dari asbes, porselen. Filtrat bebas dari bakteri tetapi tidak bebas dari virus.
Ada banyak macam filter yaitu:
a.       Berkefeld V
b.      Coars N, M dan W
c.       Chamberland
d.      Seitz
e.       Sintered glass
Metode filtrasi ini hanya dipakai untuk menyeterilkan larutan gula, cairan lain seperti serum atau sterilisasi hasil produksi mikroorganime seperti enzym dan exotoxin


2.1.4        Pelaksanaan Sterilisasi Alat-Alat
2.1.4.1  Sterilisasi terhadap bahan baku karet ( Hand Schoen)
Hand schoen atau Sarung tangan dapat disterilkan dengan uap formalin atau dengan otoklaf. Sebelum sarung tangan disterilkan, terlebih dahulu harus dibersihkan dengan jalan mencuci dengan air dan sabun. Sarung tangan yang terkena nanah, setelah dicuci bersih,dibersihkan lagi dengan lison 0,5% atau larutan betadin ( 1 gelas air ditambah 1 sendok teh betadin ). Setelah dibilas dengan air bersih, keringkan dan periksa apakah ada yang bocor atau tidak. Yang bocor dipisahkan. Sarung tangan yang telah bersih itu dikiringkan dengan kain bersih, baik luar maupun dalamnya. Setelah kering, bagian luar dan dalam diberi talk, dilipat, dan dimasukkan sepasang (kiri dan kanan) kedalam kantong sarung tangan, dengan terlebih dahlu diberi ukuran dan dimasukkan pula tambahan talk yang dibungkus dengan kasa kecil.
Bila hendak memakai uap formalin, sarung tangan yang telah siap, dimasukkan kedalam tromol atau stoples, lalu dimasukkan beebrapa tablet formalin. Sarung tangan baru suci hama (steril) setelah terkena uap formalin paling sedikit 24 jam. Sebaiknya disediakan beberapa buah stoples atau tromol agar selalu ada sarung tengan yang steril. Sarung tangan dapat pula dimasukkan ke dalam otoklaf untuk disterilkan.

2.1.4.2  Sterilisasi terhadap bahan baku logam
Alat yang terbuat dari logam sebelum disteril dicuci terlebih dahulu. Perbiasakan segera mencuci alat-alat begitu selesai memakainya, agar kotoran yang melengket mudah dibersihkan.
Alat-alat logam peperti jarum suntik, pinset, gunting, jarum oprasi, scapel blede maupun tabung reaksi mula-mula dibersihkan terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kain gaas. Setelah itu menggunakan metode pemanasan secara kering, agar suhu mencapai 160­­­­oC, jarak waktu mencapai 1-2 jam, kemudian didiamkan agar suhu turun perlahan-lahan
2.1.4.3  Sterilisasi terhadap bahan baku kaca
Sterilisasi bahan baku kaca sama dengan sterilisasi logam yaitu dengan menggunakan pemanasan kering, selain itu bahan baku kaca juga sering disterilisasi dengan menggunakan metode radiasi karena bahan baku kaca banyak menyerap bahan kaca sehingga sterilisasi dengan radiasi sangat efektive, pelaksanaanya yaitu alat bahan baku kaca dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang melekat kemudian keringkan dengan udara setelah kering alat bahan baku kaca dimasukan ketempat elektronik yaitu dengan katoda panas (emisi termis) yang mengeluarkan sinar ultraviolet kemudian sinari kaca tersebut dengan sinar ultraviolet dengan kekuatan kurang lebih 2500 s/d 2600 angstrom sehingga spora dan bakteri yang melekat pada alat tersebut dapat terbakar.
2.1.4.4  Sterilisasi terhadap bahan baku kain atau media kultur (kain doek)
Media kultur yang akan disteril, terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran, kemudian kain resebut dibungkus dengan kertas agar setelah steril dan dikeluarkan dari alat sterilisator tidak terkontaminasi dengan kuman maupun bakteri lagi. Demikian pula kain doek tersebut dibersihkan terlebih dahulu, setelah dibersihkan bungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum sterilisasi, metode sterilisasi yang akan dilakukan menggunakan metode pemanasan dengan uap air dan juga dipengaruhi dengan tekanan (autoclave). Metode sterilisasi denga menggunakan autoclave ini yaitu dengan adanya pertukaran anatara oksigen dan carbon dioxida.


2.1.4.5  Sterilisasi terhadap bahan baku plastik
Bahan baku plastik misalnya mayo apabila disterilkan sebaiknya jangan menggunakan metode pemanasan, oleh karna itu maka akan merubah bentuk dari plastik tersebut. Untuk mensucikan alat dari bahan baku plastik sebaiknya mula-mula bersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan detergen, kemudian keringkan, setelah itu rendam dalam larutan alkohol setelah itu cuci denga aquades lalu rendam dalam larutan antiseptik.

2.2  SELF PROTECTION
Perlengkapan pelindung diri  
            Perlengkapan pelindung diri yang dipakai oleh petugas harus menutupi bagian-bagian tubuh petugas mulai dari kepala hingga telapak kaki. Perlengkapan ini terdiri dari tutup kepala, masker, sampai dengan alas kaki. Perlengkapan-perlengkapan ini tidak harus digunakan/dipakai semuanya/bersamaan, tergantung dari tingkat risiko saat mengerjakan prosedur dan tindakan medis serta perawatan.
            Tiga hal penting yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh petugas agar tidak terjadi transmisi mikrobapatogen ke penderita saat mengerjakan prosedur dan tindakan medis serta perawatan, yaitu :
a.       Petugas diharapkan selalu berada dalam kondisi sehat, dalam arti kata bebas dari kemungkinan “menularkan” penyakit
b.      Setiap akan mengerjakan prosedur dan tindakan medis serta perawatan, petugas harus membiasakan diri untuk mencuci tangan serta tindakan higiene lainnya
c.       Menggunakan/memakai perlengkapan pelindung diri sesuai kebutuhan dengan cara yang tepat.
Alat atau perlengkapan pelindung diri yang digunakan/dipakai petugas adalah sebagai berikut :
1)      Sarung tangan
Terbuat dari bahan lateks atau jitril, degan tujuan :
a.       Mencegah penularan flora kulit petugas kepada penderita, terutama pada saat melakukan tindakan invasif. Jadi tujuannya untuk melindungi penderita dan sarung tangan ini disebut sarung tangan bedah
b.      mencega risiko kepada petugas terhadap kemungkinan transmisi mikroba dari penderita. Jadi tujuannya untuk melindungi petugas dan sarung tangan ini disebut sarung tangan pemeriksaan. Agar arung tangan bedah maupun sarung tangan pemeriksaan dapat dimanfaatkan dengan baik, maka sarung tangan harus steril, utuh, atau tidak robek/berlubang, serta ukurannya sesuai dengan ukuran tangan petugas agar gerakan tangan atau jari selama mengerjakan prosedur dan tindakan medis serta perawatan dapat bergerak bebas.

2)      masker
            Masker merupakan alat/perlengkapan yang menutup wajah bagian bawah. Harus cukup lebar karena harus menutup hidung, muut, hingga rahang bawah. Dengan demikian dapat menahanpercikan cairan/lendir yang keluar dari lubang hidung maupunlubang mulut saat petugas bicara, batuk, maupun bersin.
            Masker terbuat dari berbagai bahan antara lain dari katun, kasa, kertas, atau bahan sintetis. Masker yang ideal akan terasa nyaman bila dipakai oleh petugas, artinya enak untuk bernapas serta mampu menahan partikel yang disebarkan/dikeluarkan saat batuk, bersin, maupun bicara. Masker yang terbuat dari bahan-bahan diatas belum ada yang memenuhi persyaratan tersebut. Usahakan pemakaian masker pada posisi yang tepat dengan ikatan tali yang cukup kuat dan jangan sampai turun kebawah saat mengerjakan prosedur dan tindakan medis

3.      respirator
respirator adalah masker jenis khusus, terpasang pada wajah, lebih diutamakan untuk melindungi alat napas petugas.  Cara kerjanya adalah mem-filter udara yang diduga tercemar oleh  mikroba patogen yang berasal dari penderita misalnya Mycobacterium tuberculosis. Banyak digunakan di ruangan/bangsal perawatan penyakit menular.
4.      Pelindung mata
Tujuan pemakaian alat ini adalah untuk melindujnghi mata petugas dari kemungkinan percikan darah atau cairan lainnya dari penderita. Sebagai pelindung mata antara lain adalah
a.       Goggles, visor : mirip kacamata renang, dengan tali elastis dibelakangnya, merupakan pelindung mata terbaik, tetapi mudah berkabut dan sedikkit berat.
b.       kacamata dengan lensa normal atau  kacamata resep dokter, cukup memadai bila digunakan sebagai pelindung mata.
3)      Tutup kepala atau kap
            Digunakan untuk menutup rambut dan kepala agar guguran kulit kepala dan rambut tidak jatuh dan masuk ke dalam luka atau sayatan jaringan sewaktu tindakan pembedahan. Kap harus cukup besar agar semua rambut petugas tertutup, khususnya bagi petugas wanita.

4)      Gaun bedah (operasi)
Gaun ini dipakai untuk mengganti baju harian petugas. Dibuat sedikit longgar dan terdiri dari dua potong yaitu celana dan baju dengan panjang lengan baju 7-10 cm diatas siku dan terdapat lubang leher berbentuk huruf V
5)      Jas bedah (operasi)
Berbentuk jubah panjang dengan ketinggian dari bawah 10 cm di atas mata kaki, disertai tali-tali pengikat yang ada dibelakang. Digunakan/dipakai dengan cara menutupi/merangkap gaun bedah. Untuk memakainya, perlu bantuan orang lain. Terbuat dari kain yang tahan cairan dan cukup ringan. Panjang lengan jas bedah melebihi pergelangan tangan sehingga ujung lengan yang terbuka dapat ditutup oleh pangkal sarung tangan.
            Terlepas dari adanya perlengkapan pellindung diri, penderita selalu dalam keadaan terancam oleh beberapa risiko. Risiko yang diterima oleh petugas dalam bentuk percikan/tumpahan cairan atau darah yang sangat infeksius dari tubuh penderita harus dicegah dengan menggunakan peralatan npelindung diri agar petugas tetap aman dan terlindungi selama menjalankan tugasnya. Kontak antara penderita dengan petugas dapat terjadi di setiap unit kerja di rumah sakit dengan spesifikasi tersendiri, sehingga bobot risiko (akibat) yang terjadi untuk penderita dan petugas berbeda pula.
            Bagi penderita, peluang risiko terbesar dengan bobot terberat karena adanya intervensi prosedur dan tindakan medis invasif dengan perlakuan terhadap jaringan/organ yang bersifat manipulatif dan eksploratif. Oleh karenanya diperlukan adanya kewaspadaan tahap demi tahap dalam mengelola penderita yang akan menjalani operasi/pembedahan. Baik dari saat pra, intra, maupun pasca bedah. Terkait dengan proses pembedahan ini, perlu diterapkan kewaspadaan standar yang terinci dengan baik agar semua permasalahan yang mungkin terjadi dapat diantisipasi.
            Dari uraian di atas memperlihatkan perlengkapan pelindung diri harus dikelola dengan baik oleh tiap unit kerja yakni dengan menyediakan macam dan jumlahya sesuai kebutuhan dan selalu siap pakai, termasuk kualitas bahan, ukuran, serta cara menyimpannya.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesterilan peralatan medis perlu dijaga terus, mengingat resiko kontaminasi kembali saat penyimpanan dan terutama pada saat akan digunakan dalam tindakan medis. Sebelum melakukan proses sterilisasi terlebih dahulu sebaiknya dilakukan langkah-langkah seperti dekontaminasi, pencucian dan disinfeksi. Terdapat tiga metode yang biasa digunakan untuk proses sterilisasi diantaranya metode fisika, kimia dan mekanik. Selain menjaga kesterilan alat-alat medis tersebut, sangat penting juga petugas kesehatan meggunakan alat pelindung diri ketika akan melakukan tindakan kesehatan karena itu adalah kepentingan pasien maupun petugas itu sendiri. Alat pelindung diri yang biasa digunakan adalah sarung tangan, masker, respirator, goggles, kap, gaun bedah, jas bedah, dan lain-lain.
           
3.2 Saran
3.2.1    Petugas kesehatan perlu menjaga kesterilan alat-alat yang akan digunakan untuk menangani pasien karena itu bisa mempengaruhi kesehatan pasien.
3.3.1    Dalam melakukan tindakan, hendaknya petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri karena akan berfungsi melindungi baik diri petugas sendiri juga diri pasien.

Konsep Berubah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Perubahan
Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dg keadaan sebelumnya, (Atkinson, 1987). Berubah merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu / institusi, (Brooten,1978).
Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Perubahan  dapat mencakup Keseimbangan Personal, sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan perbaikan atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu (Lascaster, 1982).
2.2 Teori Berubah
1. Teori Kurt Lewin
            Kurt mengungkapkan bahwa perubahan terdiri dari 3 tahapan:
a.       Pencairan (unfreezing)
Seseorang yang mau melakukan perubahan dari keadaan yang semula menjadi keadaan yang lebih baik harus memilki motivasi yang kuat untuk melakukan perubahan serta menyiapkan diri.
                                          
b.      Bergerak (moving)
Bergerak menuju keadaan yang baru atau tidak / tahap perkembangan baru, karena memiliki cukup informasi serta sikap dan kemempuan untuk berubah, memahami masalah yang dipahami dan mengetahui langkah-langkah penyelesaian yang harus dilakukan, melakukan langkahnya atau untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru. Pada taha ini perawat berusah mengumpulkan informasi dan mencari dukungan dari orang-orang yang dapat membantu memecahkan masalah.
c.       Pembekuan (refreshing)
Telah mencapai tingkat atau tahap baru, mencapai keseimbangan baru. Tingkat baru yang dicapai harus dijaga untuk tidak mengalami kemunduran atau bergerak kembali pada tingkat atau tahap perkembangan semula.
Oleh karena itu perlu selalu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik, kritik yang konstroktif dalam upaya pembinaan yang terus menerus dan berkelanjutan. Setelah memiliki dukungan dan alternative pemecahan masalah, perubahan diinterrasikan dan di stabilkan sebagai bagian dari system nilai yang dianut. Tugas perawat sebagai agen berubah berusaha mengatasi orang-orang yang masih menghambat perubahan.


2.      Teori Rogers
Teori Rogers tergantung pada lima factor yaitu:
·         Perubahan harus mempunyai keuntungan yang berhubungan, menjadi lebih baik dari metode yang sudah ada
·          Perubahan harus sesuai dengan nilai-nilai yang ada, tidak bertentangan
·         Kompleksitas, Ide-ide yang lebih komplek bisa saja lebih baik dari ide yang sederhana asalkan lebih mudah untuk dilaksanakan.
·         Dapat dibagi, perubahan dapat dilaksanakan dalam skala kecil
·         Dapat dikomunikasikan, semakin mudah perubahan digunakan maka semakin mudah perubahan disebarkan
Roger menjelaskan 5 tahap dalam perubahan yaitu : kesadaran, keinginan, evaluasi, mencoba, penerimaan. Roger percaya proses penerimaan terhadap perubahan lebih komplek dari pada 3 tahap yang di jabarkan oleh lewin. Terutama dalam setiap individu yang terlibat dalam proses perubahan dapat menerima atau menolaknya. Meskipun perubahan dapat di terima, mungkin saja suatu saat akan di tolak setelah perubahan tersebut di rasakan sebagai hal yang menghambat keberadaanya. Roger mengatakan bahwa perubahan yang efektif tergantung dari individu yang terlibat tertarik dan berupaya untuk selalu berkembang maju serta mempunyai suatu komitmen untuk bekerja dan melaksanakannya.

3.      Teori lippitt
Teori ini merupakan perkembangan dari teori lewin. Lippitt mengungkapkan 7 hal yang harus diperhatikan seseorang  menejer dalam sebuah perunahan yaitu :
·         mendiagnosis masalah : mengidentifikasikan semua factor yang mungkin mendukung atau menghambat perubahan.
·         Mengkaji motivasi dan kemampuan untuk berubah : mencoba mencari pemecahan masakah.
·         Mengkahi motivasi dan sumber-sumber agen : mencari dukungan baik internal ataupun eksternal atau secara interpersonal, oorganisasional maupun berdasarkan pengalaman
·         Menyeleksikan objektif akhir perubahan : menyusun semua hasil yang didapatkan untuk membuat perancangan.
·         Memilih peran yang sesuai untuk agen berubah : pada tahap ini sering terjadi konflik terutama yang berhubungan dengan masalah personal.
·         Mempertahankan perubahan : perubahan di perluas, mumgkin membutuhkan struktur kekuatan untuk mempertahankannya.
·         Mengakhiri hubungan saling membantu : perawat sebagai agen berubah, mulai mengundurkan diri fdengan harapan orang-orang tau situasi yang di ubah sudah dapat mandiri.
4.      Teori redin
Menurut redin  sedikitnya ada 4 hal yang harus  dilakukan seorang menejer  sebelum melakukan perubahan, yaitu : ada perubahan yang akan dilakukan apa keputusan yang dibuat dan mengapa  keputusan itu dibuat,bagaimana keputusan itu dilaksanakan, bagaimana kelanjutan pelaksanaannya.
Redin juga mengusulkan tujuk teknik untuk mencapai perubahan: diagnosis penetapan objektif bersama, penekana kelompok informasi maksimal, diskusi temtang pelaksanaan, penggunaanupacra ritual, intervensi penolakan  tiga teknik pertama dirancang bagi orang-orang  yang akan terlibat atau terpengaruh  dengan perubahan. Sehingga diharapkan mereka mampu mengontrol perubahan tersebut.
5.      Teori Havelock
Teori ini merupakan modifikasi teori lewin dengan menekankan perencanaan yang akan mempengaruhi perubahan. Enam tahap sebgai perubahan Havelock: membangun suatu hubungan, mendiagnosis masalah, mendapatkan sumber-sumber yang berhubungan, memilih jalan keluar, meningkatkan penerimaan, stabilisasi dan perbaikan diri sendiri.
6.      Teori spradley
Ia menegaskan bahwa perubahan terencana harus secara konsistan dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen berubah dan system berubah.
Berikut ada langkah-langkah dasar model spradyley :
·         Menganalisis gejala
·         Mendiagnosis masalah
·         Menganalisa jalan keluar
·         Memilih perubahan
·         Merencanakan perubahan
·         Melaksanakan perubahan
·         Mengevaluasi perubahan
·         Menstabilkan perubahan
2.3 Jenis-jenis Perubahan
1. Perubahan bersifat berkembang
Proses perubahan dimana dimulai dari keadaan atau yang paling dasar menuju keadaan yang optimal atau matang, sebagaimana dalam perkembangan manusia sebagai makhluk individu yang memiliki sifat fisik yang selalu berubah dalam tingkat perkembangannya.
2. Perubahan Bersifat Spontan Atau Yang Tidak Direncanakan
Proses perubahan yang terjadi tanpa suatu persiapan atau bersiat alamiah, yang tidak dapat diramalkan sehingga sulit untuk diantisipasi.
3. Perubahan  yang direncanakan
Perubahan yang dipiikirkan sebelumnya, terjadinya dalam waktu yang lama, dan termasuk adanya suatu tujuanyang jelas.perubahan terencana lebih mudahdikelola daripada perubahan yang terjadi pada perkembangan manusia atau tanpa persiapananat karena suatu ancaman. Untuk alasan tersebut, peerawat harus dapat mengelola perubahan.
2.4 Tipe Perubahan
1. Indoktrinasi : suatu perubahan yang dilakukan oleh sekelompok yang menginginkan tujuan yang diharapkan dengan cara menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat berubah.
2. Paksaan atau kekerasaan : tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan atau kekerasaan pada seorang dengan harapan tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana.
3. Teknokratik : perubahan dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang diharapkan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan pihak untuk membantu mencapai tujuannya.
4. Interaksional : perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
5. Sosialisasi : suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerja sama kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
6. Emultif : suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan unilateral, dengan tidak merumuskan tujuan terlebih dahulu secara sungguh-sungguh. Perubahan ini dapat dilakukan pada system di organisasi yang bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya.
7. Alamiah : perubahan yang terjadi akibat sesuatu yang tidak disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh, seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara.
2.5 Faktor Yang Mendukung Perubahan
1. Kebutuhan dasar manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang tersusun berdasarkan hirarki kepentingan. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan memotivasi perilaku sebagaimana teorikebutuhan dari maslow (1945). Didalam keperawatan kebutuhan ini bias dilihatdarimana keperawatan dapat mempertahankan diri sebagai profesi dalam upaya memenuhi keutuhan masyarakan akan pelayanan/ asuha keperawatan yang professional. 
2. Kebutuhan dasar interpersonal
Masyarakat memiliki tiga kebutuhan dasar interpersonal yang melandasi sebagian besar perilaku seseorang: (1) kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama; (2) kebutuhan untuk mengendalikan / melakukan kontrol; dan (3) kebutuhan untuk dikasihi, kedekatan dan perasaan emosional. Kebutuhan terebut didalam keperawatandiartikan sebagai upaya keperawatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan dan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.6 Motivasi Dalam Perubahan
Motivasi itu timbul karena tuntutan kebutuhan dasar manusia,sedangkan kebutuhan dasar manusia yang dimaksud antara lain:
1. Kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur, oksigen dll) berdasarkan kebutuhan tersebut maka manusia akan selalu ingin mempertahankan hidupnya dengan jalan memenuhinya atau mengadakan perubahan.
2. Kebutuhan keamanan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia agar mendapatkan jaminan keamanan atau perlindungan dari berbagai ancaman bahaya yang ada.
3. Kebutuhan social. Kebutuhan ini mutlak diperlukan karena manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
4. Kebutuhan penghargaan dan dihargai. Setiap manusia selalu ingin mendapatkan penghargaan dimata masyarakat akan prestasi, status, dan lain-lain. Untuk itu manusia akan termotivasi untuk mengadakan perubahan.
5. Kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan perwujudan diri agar di akui masyarakat akan kemampuannya dan potensi yang dimiliki.
6. Kebutuhan interpersonal yang meliputi kebutuhan untuk berkumpul bersama untuk melakukan control dalam mendapatkan pengaruh dari lingkungan.
2.7 Tingkatan Dalam Perubahan
a) Pengetahuan : merupakan perubahan yang paling mudah dibuat karena bisa merupakan akibat dari membaca buku, atau mendengarkan dosen. Sedangkan perubahan
b) Sikap: biasanya digerakkan oleh emosi dengan cara yang positif dan atau negatif. Karenanya perubahan sikap akan lebih sulit dibandingkan dengan perubahan pengetahuan.
c) Perilaku individu: misalnya seorang manajer mungkin saja mengetahui dan mengerti bahwa keperawatan primer jauh lebih baik dibandingkan beberapa model asuhan keperawatan lainnya, tetapi tetap tidak menerapkannya dalam perilakunya karena berbagai alasan, misalnya merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut
d) Perilaku kelompok: merupakan tahap yang paling sulit untuk diubah karena melibatkan banyak orang . Disamping kita harus merubah banyak orang, kita juga harus mencoba mengubah kebiasaan adat istiadat, dan tradisi juga sangat sulit . Bila kita tinjau dari sikap yang mungkin muncul maka perubahan bisa kita tinjau dari dua sudut pandang yaitu perubahan partisipatif dan perubahan yang diarahkan.
2.8 Model Perubahan
1. Model penelitian dan pengembangan : Model ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang di lakukan, menjabarkan, atau mengembangkan komponen yang akan dilakukan dalam perubahan. Menyiapkan perubahan dan melakukan desiminasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam perubahan.
2. Model interaksi social : Model ini menggunakan langkah-langkah sebagaimana dalam teori Roger di antaranya , menyadari akan perubahan, adanya minat dalam perubahan, melkukan evaluasi tentang hal-hal yang akan dilakukan perubahan, melakukan uji coba sesuatu hal yang akan dilakukan perubahan serta menerima perubahan.
3. Model penyelesaian masalah : Model ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi masalah, mendiagnosis masala, menemukan cara penyelesaian masalah yang akan di gunakan, melkukan uji coba, dan melakukan evaluasi dari hasil uji coba untuk digunakan dalam perubahan.
2.9 Hambatan Dalam Perubahan
Perubahan tidak selalu mudah untuk dialksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun dari dalam diantara hal yang menjadi hambatan dalam perubahan adalah sebagai berikut:
1. Ancaman kepentingan pribadi, contohnya dalam pelaksanaan standarisasi perawat professional dimana yang diakui sebagai profesi perawat adalah minimal pendidikan D3 Keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang dahulu dan tidak ingin melanjutkan pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya, sehingga hal tersebut dapat menjadikan hambatan dalam perubahan.
2. Persepsi yang kurang tepat, berbagai informasi yang akan dilakukan dalam system perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas atau informasinya kurang lengkap, maka tempat yang akan dijadikan perubahan akan sukses menerimanya sehingga timbul kekhawatiran dari perubahan tersebut.
3. Reaksi psikologis, contohnya apabila akan dilakukan perubahan dalam system praktek keperawatan mandiri bagi perawat.Jika perawat belum bisa menerima secara psikologis, akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari perubahan.
4. Toleransi terhadap perubahan rendah, ini tergantung dari individu, kelompok, atau masyarakat. Apabila individu, kelompok atau masyarakat tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan, maka akan memudahkan proses perubahan tetapi apabila toleransi seseorang terhadap perubahan sangat rendah, maka perubahan tersebut akan sulit dilaksanakan.
5. Kebiasaan, Pada dasarnya seseorang akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya atau bahkan dilaksanakan sebelumnya dibandingkan dengan sesuatu yang baru dikenalnya, karena keyakinan yang dimiliki sangat kuat. Faktor kebiasaan ini yang menjadikan hambatan dalam perubahan.
6. Ketergantungan, merupakan hambatan dalam prses perubahan karena ketergantungan menyebabkan seseorang tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu.
7. Perasaan tidak aman, juga merupakan factor penghambat dalam perubahan karena adanya ketakutan terhadap dampak dari perubahan yang juga akan menambah ketidakamanan pada diri, kelompok atau masyarakat.
8. Norma, apabila akan mengadakan proses perubahan, namun perubahan tersebut bertentangan dengan norma maka perubahan tersebut akan mengalami hambatan, sebaliknya jika norma tersebut sesuai dengan prinsip perubahan maka akan sangat mudah dalam perubahan.
2.10 Strategi Untuk Berubah
Ada beberapa strategi untuk memecahkan masalah-masalah dalam
perubahan, strategi tersebut antara lain yaiu:
1. Strategi rasional empiric : Strategi ini didasarkan karena manusia sebagai komponen dalam perubahan memilki sifat rasional untuk kepentingan diri dalam berperilaku. Strategi ini juga dilakukan pada penempatan sasaran yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang di miliki sehingga semua perubahan akan menjadi efektif dan efisien, selain itu juga menggunakan system analisis dalam pemecahan masalah yang ada.
2. Strategi redukatif normative : Strategi ini dilaksanakan berdasarkan standar normal yang diadakan di masyarakat dan dilaksanakan dengan cara melibatkan individu, kelompok atau masyarakat dan proses penyusunan rancangan untuk perubahan.
3. Strategi paksaan/kekuatan: Dikatakan strategi paksaan/kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral dan politik.
2.11 Perawat sebagai Pembaharu
Maukseh dan Miller dalam Kozier menyebutkan karakteristik seorang
pembaharu adalah :
a.         dapat mengatasi/ menaggung resiko. Hal ini berhubganagn dengan
dampak yang mungkin muncul akibat perubahan.
b.        Komitmen akan keberhasilan perubahan. Pembaharu harus menyadari
dan menilai kefektifannya
c.         Mempunyai pengetahuan yang luas tentang keperawatan termasuk
hasil-hasil riset dan data-data ilmu dasar, menguasai praktik
keperawatan dan mempunyai keterampilan teknik dan interpersonal.











BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
   Perubahan adalah cara untuk mempertahankan agar menjadi yang terbaik atau lebih dari yang sebelumnya. Semua elemn tentu akan mengalami perubahan, termasuk keperawatan itu sendiri. Perubahan bagi keperawatan adalah suatu cara untuk mempertahankan profesi serta agar dapat memberikan pelayanan keperawatan yang lebih baik lagi sesuai di era globalisasi ini dimana tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan khususnya terus meningkat.
3.2 Saran
Perubahan dalam keperawatan jangan dianggap sebagai suatu ancaman tetapi jadikanlah sebagai tantangan untuk memacu proses terwujudnya profesionalisme di bidang keperawatan khususnya di Indonesia agar dapat sejajar dengan Negara-negara diman keperawatannya sudah maju.



DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. (2012). Konsep berubah dalam keperawatan. Diakses pada tanggal 09 Oktober 2012 dari http://www.scribd.com/doc/46660132/Konsep-Berubah-Dalam-Keperawatan

Hamsah, A. (2012). Konsep perubahan dalam keperawatan. Diakses pada tanggal 09 Oktober 2012 dari http://www.slideshare.net/azmirhamsah/konsep-perubahan-dalam-keperawatan